Hari Tanpa Jajan

Beberapa hari yang lalau saya membuat kesepakatan dengan anak-anak. Isi kesepakatannya sederhana, yaitu dalam tujuh hari (satu pekan) satu hari akan dijadikan sebagai hari tanpa jajan. Setelah berdiskusi dan berdiolog dengan anak-anak akhirnya kami sekeluarga sepakat bahwa hari kamis adalah hari tanpa jajan. Ini kami terapkan untuk mengurangi kebiasaan jajan yang terlalu "over" apalagi jenis makanan jajanan di warung menurut laporan "investigasi" dinyatakan tidak aman bagi kesehatan dan pertumbuhan anak. Untuk itu perlu adanya langkah nyata dalam mensikapi kecenderungan jajan pada anak.

Hari kamis kemarin adalah hari pertama kami menerapkan "hari tanpa jajan" di pekan ini. Ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh di pekan pertama "hari tanpa jajan" ini, diantaranya pagi-pagi yang biasanya harus disibukan dengan pembagian uang jajan kali ini bisa santai dan ada waktu untuk persiapan lainnya. Tentu saja kebiasaan memnta uang jajan masih terdengar, namun dengan kesepakatan yang telah dibuat merekapun cepat menyadarinya. Sungguh hari kamis kemarin menjadi hari yang berbeda dari biasanya. tiga orang anak saya semuanya lebih sering berkumpul dan bermain dirumah. Hal ini membuat pengawasan terhadap mereka menjadi lebih mudah.

Meskipun penerapan "hari tanpa jajan" di pekan pertama ini sesuai yang telah direncanakan, tetapi bukan tanpa rintangan, karena pas menjelang sore hari istri saya yang belum lama  melahirkan dan sedang menyusui bayi itu pergi berbelanja ke warung untuk keperluan dapur. Pada saat berbelanja itulah uminya anak-anak "belanja" gorengan sementara anak saya yang pertama menyusulnya. "Umi jajan ya..." tanya anak saya itu sambil iapun menuntut minta jajan juga. Ditanya seperti itu tentu saja istri gelagapan "Umi kan punya dede bayi yang harus tetrap "jajan", kalau engga dede bayi ga bisa minum susu" jawab istri ku memberikan alasan.

Saat masih  warung dan diperjalan pulang ke rumah anak ku itu masih bisa diam, meskipun kelihatan kecewa, tetapi pas sudah pulang ke rumah barulah dia menuntut sambil menangis "kenapa syifa ga boleh jajan sedangkan tadi umi jajan" begitu tuntutannya. Mendengar tangisannya yang merenge-renge dan tidak bisa dihentikan spontan istriku menyuruhnya jajan dan membatalkan "hari tanpa jajan" untuk pekan ini. tapi anakku tidak mau bila harus terpaksa jajan.

"Sudah sana jajan aja ga apa-apa, nanti minggu depan kita mulai lagi "hari tanpa jajan" nya, ya kan bi?" Istriku meredakan kekecewaan anakku sambil minta persetujuanku
"Yaaah... Ya udah kalau mau mah jajan aja sana? Jawabku setengah hati.

Melihat kejadian itu aku hanya terdiam, memahami betul apa yang menjadi tuntutan syifa anak ku itu. Hanya saja aku masih bisa tenang karena adiknya tidak bergeming dan tidak terpengaruh dengan tuntutan kakaknya dan tindakan jajan uminya. Akupun sebelumnya tidak menyadari bahwa istriku itu sedang masa menyusui, butuh asupan makanan yang lebih.

 "Abi sih kenapa mengikut sertakan umi dalam program tanpa jajan ini"
Begitu celoteh istriku yang menyalahkan saya dalam kejadian ini.

"Oh... Iya abi lupa tuh, umi kan lagi menyusui bayi ya?" Jawabku pura-pura ga tahu (Orang tuaa....adanya jawabannya, hehehe...) Aku coba memberi alasan dan tidak menyalahkan siapapun. Akhirnya "hari tanpa jajan" tetap berlaku untuk hari kamis itu dan anakku, syifa juga sudah mulai reda nagisnya dan tidak terdengar lagi tuntutannya.

Jadi! dengan kejadian yang tak terduka itu, perlu adanya "kebijakan" baru berkaitan dengan penerapan "hari tanpa jajan" ini untuk kamis pekan depan (wih! kaya persoalan negara aja laganya nih). Kita jangan mau kalah sama kreatifitas para pedagang yang "asda-asju" perlu strategi untuk mengatur penerpan "hari tanpa jajan" agar efektif dan sesuai tujuannya. Kebijakan baru itu adalah :

  1. Seluruh anggota keluarga tetap ikut serta dalam progran ini dengan penuh kesadaran, kecuali ada kondisi tertentu yang menuntut perubahan. Perubahan itu akan diatur dalam sebuah aturan yang akan dibuat kemudian (Cieeeeeeeh....!)
  2. Disediakan makanan pengganti jajanan di rumah yang memenuhi unsur 5 sehat 6 sumpurna
  3. Menjunjung tinggi keteladanan dengan pemahaman yang benar
  4. Penerapan "hari tanpa jajan" berlaku selama satu hari penuh (sehari-semalam) dan tidak ada uang pengganti.

Itulah program "hari tanpa jajan" yang baru kami terapkan beserta butir-butir kebijakan baru dalam penerapan hari tanpa jajan di keluarga kami. Mengingat manfaatnya lebih besar, ini akan saya coba terus untuk menjawab tantangan semakin banyak jenis makan jajanan yang tidak sehat dan tidak aman bagi kesehatan anak dan orang dewasa. Ada yang punya pengalaman lain?

0 Response to "Hari Tanpa Jajan"

Posting Komentar

Terimakasih anda telah berkunjung.